Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

تها نينا للزيارة وا لاستمتاع يا أخي

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

Tekad

selamat jalan kakakku
kuiringi do'a untukmu
untuk melangkah jenjang hidupmu
walau kau tinggal aku penggantimu
adik baru penerus garis lurusmu
selamat datang adik sayang
kampus ini ajang berprestasi
bukan wadah huru-hara
teladan sopan santun berilmu
harapan masa datang gemilang
menjadi insan bermartabat jujur
tekad satu membangun negeri ini
demi rakyat kecil hidup makmur

Takut Sendiri

pandanganmu menembus takbir
dalam bathin dan ucapanku
setiap langkah kaki jantung berdenyut
pendengaranmu terhembus takbir
saat lisan dan amalanku
sedetik do'a,lidah berkomat-kamit
Rohmatmu buat nurani insani
memohon terkabul do'a dan pujian
tersimpuh penuh mata berlinang
buka kan aku pintu masukku
dalam serambi firdausi
saat kuketuk daun pintumu
terperangah tanganku lemas sandu
kucuran peluhku deras kecu
aku terkapar nanar kacau
aku bimbang di ambang pintumu
patutkah insan seperti diriku
menjadi penghuni tamanmu
aku malu dan takut
aku tukang dusta
aku orang munafik
aku nista pezina
aku peminum khamer
aku rentenir
aku ingkar
Tuhan...........
aku tobat padamu

Seribu Bulan

dikeheningan malam sunyi
aku menjerit menyayat hati
bagi insan mendengar suara keluhan
kepada siapa curahan sukmaku
ku tumpahkan
dalam lembaran jelaga
adakah kalian semua berkalbu salju
aku ingin seperti kalian
berwajah ceria tersenyum madu
suaramu seruling nyaring
nafasmu menebar aroma wangi
aku terpesona lupa pada diriku
aku hanyut dalam gelombang lagumu
mengalun irama berdendang ayat-Mu
mampukah aku menerima
secercah cahaya ampunan suci
aku menyadari sendiri
aku manusia kotor bergelimangnajis
aku insan bermaksiat
aku hanya bisa memohon secuil
harapan malam seribu bulan
kupetik dalam damai
bersimpuh sujud selamanya
di telapak kaki-Mu

Urat Nadiku

Saat aku sendiri dalam sunyi
engkau selalu menemaniku
dikala aku dalam duka engkau menghiburku selalu
aku merasa enggan berpisah
meninggalkan engkau
aku terkadang tak tahu malu
tak tahu diri
sering melupakan diri-Mu
namun engkau tetap tegar
saat aku dalam menderita sakit
engkau mengobati
engkau merawat
dan engkau menyembuhkanku
aku ingin mencari satu malam
dalam bulan suci
aku sering di tegur
mengapa bulan mencari aku
diriku malu
sedih karena keliru
aku berbisik,tolol benar aku ini
mengapa aku mencari satu malam
bukan itu welingnya
aku dekat sekali dari urat nadiku
ya Robb,engkau kutemukan jua

Seorang priyantun amanah

Merapi indah dipandang dari jauh
hijau rerimbunan wana perawan
senyum pagi mentari menyapa lirih
sahabat satwa menyambut gairah
se-abad lalu cerita ceria moyang di bale-bale bambu
cucu merambat sat umur  pun berubah menjadi
moyang seperti kakek dan nenek silam
ceritanya dulu aku montok
dulu aku gempal
dulu aku kuat
kuat mendaki lereng berani
menuruni jurang bebatuan terjal
lincah melompat,berenang dalam deras arusnya
lanjutnya guneman cucuku
sekarang kakek nenek sudah loyo
tinggal memandangi tebing semakin butak
tinggal meratapi jurang semakin menganga
sebentar lagi wedus gembel bertengger bangga
luluh lunglai gosong wana perawan
perawat dan peruwatku telah usai
sudah pasrah tekad mengabdi pada ilahi
santun dalam tutur setia patuh pada amanah
celatunya aku ikhlas dan ridho'
untuk mati dalam sujud bersama sirine panjang
di atas sajadah tersenyum di pangkuannya

Budheg

suara bedhug di telingaku
juga didengar ditelingamu
konyol kepada siapa aku harus minta tolong
agar gemuruh bisa luruh

suara berdengung gaung
menjalar liar aku jadi nanar
kepada siapa aku harus bingar
bila telinga  budheg
mendengar gembor mulut
suara cekakakan gembira
tapi ingat saat hati sedih
bungkam lisan seribu bahasa
sepi..........
sunyi,,,,,,,,,
aku budheg telinga pekak
budheg karena bedhug
lisanmu selalu obral obrol
lebih indah suara bedhug
daripada.......
suara lisan manusia liar
ingat tetangga sedang pulas
ingat tetangga sedang damai
ingin kesunyian bersama
Tuhan yang maha mendengar

Asa

Cintaku dalam do'a
hening merinding bulu romaku
sunyi dalam malam temaram
aku dalam pangkuan terlena
dalam dekapan-Mu menangis bahagia

Sejenak dalam nyenyak pulas
bermimpi dalam air mataku puas
aku tidak tidur sebenarnya
aku jadi lebur tiada makna
aku cuma cuilan zarroh maya
aku pasrah dalam ridho-Mu
pinta do'a-ku diterima

Rabu, 03 Agustus 2011

Fenomena Jahilisme

Aku seorang insan tidak karuan
sampeyan juga insan
aku senang kencan tidak beneran
sampeyan jaga lisan

Aku lancang rentan bualan
aku berdendang gamelan kesombongan
Aku insan urakan
tidak bisa di percaya
Aku suka menipu
aku suka kartu
aku suka zina
aku suka zabu-zabu
aku bersantap riba
aku berkuasa bisa apa saja
aku juga bisa jadi maling
mataku juling melihat perawan
perduli amat aku jutawan
semua tunduk uangku timbunan
rumahku indah lebih dari dua
masak'aku akan kalah dari tetangga

Nafsu sebagai sobatku
amarah santapan harianku
syahwat setiap aku inginkan
ambisi program visiku
rente' uang perhitungan setiap waktu

Aku seorang insan tidak karuan
sudah merebak di Antero kawasan
insan dan syetan jadi kawan idaman

Acuh semakin Tak Jauh

Aku ingin bercerita padamu
apabila engkau mau mendengarkan ceritaku
hatiku gembira engkau rela
aku mengerti waktumu tersita
cerita ini tidak buat siapa
hanya engkau ku percaya menerima

Aku ingin bercerita padamu
apabila engkau mau menerima cintaku
hatiku bangga engkau setia
aku mengerti waktu bercanda
cerita ini tidak buat siapa
hanya engkau ku percaya selamanya

Tidak percuma aku bercerita
tidak percuma aku bercanda
tidak percuma aku bangga
akhirnya engkau cinta juga

Lingkaran

Diatasku ada batas
Di bawahku ada batas
Dikananku ada batas
Dikiriku ada batas
Dibelakangku ada batas



Aku dalam kurungan emas

Aku sebagai burung bebas

Aku tidak bisa lepas

Aku dalam wawas-Mu

Aku sebenarnya tidak ada

Aku ada sebagai hamba

Dalam kurungan emas

Mutiara

Kuda berlari kencang lepas
Dari kandang bebas
Nafas nafsu lantang ganas
Bersibak degup jantung judas
Energi hilang terbuang terkuras

Kuda akhirnya loyo sempoyongan
terpuruk tunduk dalam dekapan rerumputan
engkau tetap lapar
engkau tetap letih
Nafas nafsumu tersengal tak karuan
Akan lirih luruh suara merintih


bila engkau mampu berbicara
ringkikmu menembus langit biru
suara indah merendah kuda
Kembalilah ke kandangmu lagi
Menjadi kuda peliharaan